Selasa, 23 April 2019

Perkembangan Teknologi China

Perkembangan Teknologi China | IHSG Terjebak di Zona Merah, Semua karena AS-China & Brexit IHSG Terjebak di Zona Merah, Semua karena AS-China & Brexit



Google Image - Perkembangan Teknologi China



Perkembangan Teknologi China - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuntaskan perdagangan sesi 1, Selasa (19/3/2019), dengan melemah sebesar 0,47% ke level 6.478,98. Indeks acuan ini akhirnya merosot setelah sempat menguat selama 4 hari beruntun.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG merupakan PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (-0,9%), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-1,31%), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk/CPIN (-3,18%), PT Astra International Tbk/ASII (-1,35%), dan PT Gudang Garam Tbk/GGRM (-1,96%).

Kinerja IHSG senada dengan sejumlah besar bursa saham utama lokasi Asia yang juga ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 0,11%, indeks Shanghai turun 0,22%, indeks Hang Seng turun 0,25%, dan indeks Straits Times turun 0,11%.


Bursa saham Benua Kuning hari ini ketar-ketir karena adanya tekanan dari perang dagang antara AS-China yang tampaknya akan terus berlanjut tanpa adanya kepastian kesepakatan.

Pelaku pasar awalnya optimis bahwa perang dagang akan segera selesai ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, di Florida akhir bulan ini.

Namun, Duta Besar AS untuk China, Terry Branstard, menyebutkan bahwa pertemuan itu kemungkinan akan diundur hingga April mendatang karena kesepakatan dagang masih dalam proses diskusi.

Malah, perkembangan terbaru menyebutkan pertemuan akan diundur hingga Juni. Melansir dari South China Morning Post, seorang sumber menyebutkan bahwa masih ada perbedaan dari sisi AS bersangkutan dengan kesepakatan dengan China.

Pihak Trump masih masih condong untuk memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap kesepakatan dagang AS-China terutama bersangkutan pada hak kekayaan intelektual, kompetisi yang tidak adil (perlindungan pemerintah), dan kewajiban transfer teknologi.

Alhasil, dengan semakin molornya negosiasi perang dagang ini akan semakin memperberat ekonomi kedua negara, yang selanjutnya berimbas pada ekonomi rekan dagang AS dan China, termasuk Indonesia.

Belum lagi, keresahan juga datang dari Parlemen Inggris yang memutuskan tidak akan melaksanakan pemungutan suara lanjutan a tas proposal Brexit, karena tidak ada perubahan dari segi fundamental.

Dilansir dari Bloomberg, pemungutan suara proposal Brexit ketiga diagendakan akan dilaksanakan pada hari ini waktu setempat. Keputusan parlemen Inggris tersebut tentunya semakin meningkatkan peluang bahwa Inggris akan berpisah dengan Uni Eropa tanpa kesepakatan (No-Deal Brexit). 
Jika ini yang terjadi nantinya, tentu perekonomian Inggris akan mendapatkan tekanan yang sangat signifikan. 


Dilansir dari Reuters, besar dapat jadi perusahaan di Asia akan mengeluarkan dana modal (capital expenditure/capex) sekitar 4% lebih kecil tahun ini seiring dengan ketidakpastian yang menyelimuti perang dagang dan Brexit. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan akan relatif stagnan di angka 3,3%.
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar