Selasa, 07 Mei 2019

Perkembangan Teknologi Era Industri 4.0

Perkembangan Teknologi Era Industri 4.0 - Pakar: Sistem teknologi informasi KPU Perlu Diaudit


Google Image - Perkembangan Teknologi Era Industri 4.0


Perkembangan Teknologi Era Industri 4.0 - Salah satu siksaan terberat yang mesti dihadapi oleh penduduk negara Indonesia yang senang menyimak berita ialah ia bakal bertemu masing-masing hari dengan berita-berita yang ditulis secara buruk.

Saya tidak merundingkan dua atau tiga berita yang ditulis oleh wartawan ingusan dari media-media kacangan. Ini fenomena umum jurnalisme kita. Para wartawan, tergolong mereka yang bekerja pada media-media dengan nama besar dan usia tua, masing-masing hari menyiram kita dengan tulisan-tulisan buruk.

Karena keburukan tersebut muncul masing-masing hari, anda boleh memutuskan bahwa mereka memang tidak mengerti teknik menulis bagus. Orang-orang yang tidak tahu teknik menulis bagus seringkali tidak risau menghasilkan artikel buruk. Dan beberapa dari mereka barangkali tidak menyadari bahwa artikel mereka buruk.

Jadi, mereka bakal terus menganiaya kita dengan tulisan-tulisan mereka, masing-masing hari hingga mereka pensiun besok atau hingga mereka menyimpulkan berganti profesi, contohnya menjadi petani kecambah atau saudagar kuda.

Perhatikan artikel berikut, penggalan dari suatu berita berjudul Industri 4.0 Mendorong Sektor Konstruksi Lebih Efisien. Saya mengejar berita tersebut di internet sesudah memasukkan keyword “industri 4.0” pada mesin pencari. Berita tersebut ditulis dengan desakan tak tertahankan pada wartawannya untuk merealisasikan prinsip satu paragraf satu kalimat.

Kehadiran teknologi berbasis data dan informasi di bidang konstruksi menyerahkan pengaruh pada cara pembangunan dan sudut pandang semua pelakunya.

Para pekerja yang tercebur dalam industri konstruksi mesti memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya, serta tetap mempertimbangkan pemakaian sumber daya alam secara efektif dan efisien.

Artinya, teknologi mesti dimanfaatkan untuk dapat menghemat energi semaksimal barangkali sehingga sumber daya alam tidak cepat habis.

Pada ketika menulis, urusan kesatu yang perlu anda pertimbangkan ialah kita tahu apa saja yang akan anda sampaikan. Kedua, anda harus melemparkan truisme jauh-jauh. Tidak perlu anda menulis: Unggas ialah hewan bersayap; secara umum mereka dapat terbang, namun ada pun yang tidak dapat terbang.

Tidak terdapat satu orang juga yang dapat menyangkal kebenaran pengakuan kita mengenai unggas. Tetapi apa gunanya mengucapkan hal itu? Semua orang telah tahu bahwa unggas ialah hewan bersayap dan seterusnya.

Kalimat kesatu dalam berita mengenai industri 4.0 dan sektor konstruksi ialah sebuah truisme. “Kehadiran teknologi berbasis data dan informasi di bidang konstruksi menyerahkan pengaruh pada cara pembangunan dan sudut pandang semua pelakunya.” Kalimat ini sepenuhnya benar. Kehadiran teknologi baru, entah tersebut berbasis uap atau berbasis data, pasti akan dominan pada sudut pandang semua pelakunya.

Kalimat kedua dan ketiga ialah petuah umum yang pun tidak butuh ditulis sebab semua orang telah tahu.


Jadi, tiga kalimat kesatu dalam berita tersebut harus dibuang. Itu berarti si wartawan mencatat straight news dengan teknik menyalahi prinsip segitiga terbalik: ia memenuhi bagian mula berita, yang harusnya informasi sangat penting, dengan informasi-informasi yang semuanya mesti dibuang.

Jika kamu membaca utuh berita itu, kamu akan mendapati bahwa seluruh paragrafnya mesti dibuang. Artinya, berita tersebut tidak butuh ditulis. Narasumber melulu menyampaikan petuah umum, wartawannya tidak tahu apa yang mesti ditanyakan.

Saya mengejar berita tersebut karena hendak melihat bagaimana teknik media kita mencatat tentang industri 4.0 dan bagaimana media barat mencatat tentang topik itu—apa yang anda bicarakan dan apa yang mereka bicarakan. Kesimpulan saya, media anda tidak tahu apa-apa mengenai industri 4.0. Kita melulu ikut bicara: ikut berbunyi namun tidak mengucapkan apa pun, laksana bunyi-bunyian yang terbit dari mulut orang latah.

Contoh lain mengenai tulisan buruk ialah penggalan di bawah ini:

Kejujuran adalahbasis atau orientasi nilai perbuatan yang hasil atau dampaknya mempunyai makna secara personal dan kolektif. Namun, saat kejujuran telah jadi mitos, publik hanya dapat mengenalinya sebagai keyakinan yang ada, tetapi susah dibuktikan. Kejujuran, kebaikan, dan kebenaran, di dalam masyarakat yang tidak tulus dan culas, telah diubah jadi ekstrak dan bibit parfum, lalu dibaur dengan cairan-cairan kearifan. Selanjutnya dikemas dalam botol-botol parfum hipokrisi yang disemprotkan pada masing-masing kebusukan. Para pemakai parfum hipokrisi merasa dirinya bersih berkat bau harum yang menguar dari dirinya. Untuk sedangkan waktu, bau harum tersebut mampu memperdaya masyarakat guna menaruh keyakinan sehingga mereka tetap dapat bertahan pada posisi sosial-politiknya.

Kalimat kesatunya alot sekali dan saya yakin kamu tidak mampu mencernanya. Saya pun tidak bakal memaksakan diri untuk memahami sesuatu yang tidak dapat dikunyah.

Kenapa ia tidak menyebutkannya sederhana saja? Ketimbang dijadikan gelembung sabun, paragraf tersebut jauh lebih estetis ditulis dalam satu kalimat: Stok orang jujur di negara ini telah habis; yang berlimpah melulu orang-orang yang bermanis muka di depan anda dan merampok di belakang punggung kita.
Satu gelembung sabun lagi:

Meskipun konfigurasi politik merasakan pembentukan ulang usai Pemilu 2014, akibat polarisasi politik terus terbawa sampai menjelang Pemilu 2019 ini. Apalagi dengan dijalankannya politik kebencian berbasis identitas, perkubuan di kalangan elite merembes sampai mengarah pada sebuah tribalisme politik dengan pertentangan tajam secara horizontal di kalangan massa. Ketika politik kebencian tidak menemukan antusiasme pemilih dalam Pilkada Serentak 2018, politik nasional bukan kemudian beringsut bertambah kualitasnya.
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar