Selasa, 07 Mei 2019

Perkembangan Teknologi Fiber Optik

Perkembangan Teknologi Fiber Optik - Pasca Sebut Ada 57 Ribu Kesalahan di Situng KPU, Akun FB Pakar TI Unair Raib

Google Image - Perkembangan Teknologi Fiber Optik


Perkembangan Teknologi Fiber Optik - Chatbot anti hoaks adalahsebuah perangkat empuk hasil kerja sama antara Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan Prosa. Chatbot ini bermanfaat untuk memverifikasi sebuah tautan tulisan yang belum diketahui kebenarannya.

Chatbot sendiri ialah perangkat empuk robot yang dapat berinteraksi lewat chat atau obrolan. Saat ini, chatbot itu hanya dapat dinikmati oleh pemakai software Telegram. Pengguna bisa langsung terhubung melewati akun @chatbotantihoaks.

Pendiri sekaligus SEO Prosa Teguh Eko Budiarto menjelaskan teknik kerja Chatbot Anti Hoaks ini tidak sama dengan mesin AIS kepunyaan Kemenkominfo. Berdasarkan keterangan dari Teguh, tugas chatbot ini melulu untuk memverifikasi kata atau link tulisan berita yang terdapat di data base mesin AIS, yang bisa berisi informasi hoaks atau asli.

"Kalau link tulisan berita, teknik verifikasinya akan dipungut kontennya kemudian nanti di telusuri data nya data base kepunyaan kita, semacam search engine," kata Teguh usai peluncuran layanan Chatbot Anti Hoaks di kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (12/4).

"Lalu nanti anda akan mengerjakan re-processing (memproses ulang) guna cari relevansinya terhadap tulisan yang dikirim oleh pemakai,"

Selain tersebut kata Teguh, andai link tulisan berita tersebut belum terdapat di data base kepunyaan Prosa maka ia dan tim bakal menurunkan sedangkan tautan berita tersebut. 

Data tautan tulisan berita tersebut didapatkan dari mesin AIS Kemenkominfo maupun Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Tak melulu mengandalkan machine learning, Prosa pun menyiapkan sebanyak orang untuk memeriksa kenyataan dari link tulisan berita.

"Kita perlu kesatu orang yang memeriksa kebenaran faktanya, dua-duanya ada yang berwenang memberi stempel hoaks atau fakta. Mereka punya akses ke data pemerintah dengan kata lain orang dibelakang meja menstempel," jelas Teguh.


Lebih lanjut Teguh menuliskan bahwa chatbot tidak difungsikan guna masuk ke sebanyak grup obrolan di Telegram. Namun, pihaknya tak memastikan seratus persen berhubungan akurasi hoaks atau tidaknya link tulisan berita itu.

"Ya tidak dapat 100 persen, hanya kita dapat nambahin terus. Saat ini kita dapat hanya empiris, jadi saya tidak dapat bilang 80 persen mungkin," tuturnya.

Jawaban dari chatbot ini berupa keterangan bersangkutan link tulisan berita yang diantarkan pemakai laksana salah, hoaks, dan disinformasi. Lalu berita-berita yang disaring juga tidak melulu berbau konten politik.

"Jadi tersebut [jawaban chatbot] tergantung dari ketika ini database yang anda terima. Harapannya nanti ke depan anda akan seragamkan stampelnya agar tidak menciptakan bingung," pungkas Teguh.

Direktur Jendral Aplikasi Informatika (APTIKA) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan menuliskan meskipun baru pemakai Telegram saja yang dapat memakai Chatbot Anti Hoaks, tetapi pihaknya pun tengah mengerjakan pembicaraan dengan platform instant online messaging lain laksana WhatsApp dan Line.

"Kapan ke yang lainnya? Segera sebab kita punya mekanisme beda yang mesti dibicarakan, nanti kami bakal bicarakan dengan Line dan WhatsApp dan lain. Harapannya dalam masa-masa dekat kalau dapat seminggu atau dua minggu ini dapat terwujudkan
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar